About Me

header ads

Rayakan Hari Bahasa Arab, Panitia Lingkar Gemerlap 'Aroby (LIGA) 2021 Sukses adakan Webinar Nasional


Minggu (26/12/2021). Panitia Lingkar Gemerlap 'Aroby (LIGA) sukses adakan Webinar Nasional bertema "Urgensi Bahasa Arab Dalam Menangkal Pengaruh Radikalisme" . Webinar ini hadirkan dua pemateri yaitu Bapak Rumpoko Setyo Jatmiko, S.S, M.A. (Dosen Sastra Arab di Prodi Bahasa dan Sastra Arab, UIN Raden Mas Said) dan Ibu Aulia Mustika Ilmiani, M.Pd. (Dosen Bahasa Arab di Prodi Pendidikan Bahasa Arab, IAIN Palangka Raya). 

Webinar ini adalah salah satu serangkain kegiatan LIGA 2021. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00 wib hingga selesai melalui room zoom meeting dan rupanya banyak diminati oleh mahasiswa(i) PBA, terbukti dengan adanya puluhan pendaftar yang mengikuti Webinar Nasional Online ini. Bukan hanya itu, peserta yang bergabung tidak hanya dari Prodi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Palangka Raya saja namun, juga diikuti beberapa peserta dari Instansi lain salah satunya dari UIN Raden Mas Said Surakarta. 

Kegiatan dimulai dengan kata sambutan dari Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Arab yaitu Ibu Dr. Marsiah, M.A. Webinar ini dipandu oleh Fitri Ambar Mubarikah, mahasiswi PBA semester 3 serta anggota Div. Pembinaan HMPS PBA IAIN Palangka Raya.

Mahasiswa Bahasa Arab Se-Indonesia diharapkan terus menyuarakan nilai-nilai toleransi dan pemahaman Bahasa Arab pada Al-Qur'an dan Hadits yang sesuai konteks dapat menangkal radikalisme, termasuk stigmatisasi radikal atas Islam.

Dosen Bahasa dan Sastra Arab Rumpoko Setyo Jatmiko, S.S, M.A. salah satu pemateri pada webinar tersebut, mengatakan Radikalisme timbul karena pemahaman atau penafsiran yang berbeda dari individunya". Beliau juga mengatakan ciri dari Radikalisme adalah Revolusioner, Fanatik, Intoleran dan Ekslusif. Radikalisme adalah gerakan yang menginginkan perubahan dan dalam mencapai tujuannya seringkali menggunakan kekerasan dan umumnya bersifat politik. Lanjut ungkapnya, "Apabila kita dapat membuka diri membuka pikiran kita untuk saling berdiskusi maka pemahaman yang berlebih itu akan lurus atau kembali kepada jalannya karna kita mengingat bahwa pancasila disini kita sebagai warga Indonesia harus hidup berdampingan, kita harus saling mentoleri, dan hidup toleransi antar umat bergama". Dalam kesempatan terakhir beliau mengatakan bahwa "Peran bahasa Arab berada di garda terdepan sebagai benteng radikalisme karena semua sumber pengetahuan agama Islam berbahasa Arab dan juga semua istilah yang digunakan oleh ekstrimis berbahasa Arab", ungkap bapak Rumpoko.

Pada kesempatan terakhir, Ibu Aulia Mustika Ilmiani, M Pd. (Dosen Bahasa Arab di Prodi Pendidikan Bahasa Arab, IAIN palangka Raya), mengatakan bahwa "Sebenarnya musuh kita bukan Radikalisme, tapi cara berpikir (cara berpikir yang salah)". Lanjut ungkapnya bahwa ini adalah suatu ungkapan tapi bisa dipahami dengan panjang. Beliau juga mengatakan kalau kita bahas masalah radikalisme sebenarnya banyak sekali pengertian yang berbeda-beda, di Kamus KBBI kemudian juga menurut para ahli rasanya definisi radikalisme selalu berubah-rubah, selalu berbeda, seolah-olah setiap harinya akan selalu berubah mengikuti perkembangan, atau mengikuti kejadian-kejadian", ungkap beliau.

Beliau juga mengatakan, "Dan kalau misalnya kalian lihat berita-berita terkini justru mengapa radikalisme selalu diarahkan ke-Islamisme, kenapa harus agama kita yang selalu menjadi konten negatifnya. Dan juga isu terakhir yang kita ketahui bersama pada saat itu adalah tentang pelajar yang mempelajari bahasa Arab adalah sebagai salah satu ciri orang yang radikalisme, sebelumnya bahkan mereka menyebut bahwa pakaian kita, misalnya anak-anak yang jubahan pakai baju hitam atau pakai niqob wahh itu radikalisme kata mereka. Padahal, kita lihat definisi-definisi itu sama sekali menurut para ahli atau dari penelitian itu sama sekali tidak ada wacana yang tertulis disitu bahwa radikalisme adalah ciri-cirinya orang yang belajar bahasa Arab atau misalnya orang yang memakai baju hitam atau orang-orang yang tidak hapal nama-nama parpol jelas saja itu sangat mencederai definisi radikalisme dan itu tidak menguntungkan untuk kita sebagai umat Islam", ungkap ibu Aulia.

Lanjut ungkap beliau "Kita sebagai muslim, dan juga sebagai pelajar bahasa Arab harus mempunyai mental yang kuat untuk membela mana prinsip-prinsip dasar kita. Jadi, kita disini sudah tahu bahwa bahasa Arab tidak ada hubungannya dengan radikalisme, atau kemudian pakaian, dan orang-orang yang memakai niqob itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan radikalisme. Lanjut ungkap beliau kita sebagai akademisi harus tahu batas-batas yang dalam arti kita sebagai muslim disini juga mempunyai garis dan jangan mau selalu dikomentari negatif yang dalam arti ini radikalisme, akan tetapi kita sampaikan dengan cara yang baik, dengan tutur yang baik, yang lembut, sopan dan juga dengan adab yang bagus, dan kita tidak perlu membalas", ungkap ibu Aulia. (by: latif)

Posting Komentar

0 Komentar